Mengayu, Ruang Harapan Baru bagi Para Perempuan Penyintas Kekerasan Seksual dan KDRT

mengayu

Sumber: Jawa Pos

Mengayu merupakan sebuah wadah yang dibangun dengan usaha sosial untuk memberikan ruang harapan baru bagi para perempuan penyintas kekerasan seksual dan KDRT. Secercah harapan yang dibentangkan melalui pemberdayaan diri dan ekonomi.

SUDAH bukan hal yang mengagetkan jika perempuan sering kali dipandang remeh oleh sebagian besar kelompok masyarakat. Banyak stigma negatif yang diberikan, apalagi mereka penyintas kekerasan seksual. Tak jarang, mendapatkan olokan dan perlakuan serupa karena dianggap pantas.

Dunia kelam perempuan selalu mengisahkan berbagai macam cerita pilu. Kekerasan seksual menjadi pengalaman yang sangat menyakitkan. Di sisi lain, ketergantungan ekonomi kepada suami yang melakukan KDRT juga berujung memberikan masalah baru setelah perceraian. Setidaknya, hal itulah yang menjadi alasan Riza Nisrina mendirikan Mengayu.

Mengayu bagaikan ruang harapan bagi para perempuan penyintas kekerasan seksual dan korban KDRT. Sebuah usaha sosial untuk pemberdayaan perempuan. Ide itu muncul pada 2020 lalu. Setelah Ina, sapaan akrab Riza Nisrina, melakukan berbagai riset bentuk usaha sosial yang efektif untuk mereka. “Kami bertanya langsung kepada mereka apa yang dibutuhkan, pekerjaan seperti apa yang diminati,” jelasnya.

Perempuan 28 tahun itu paham betul dunia mereka. Sejak menjadi mahasiswa ilmu hukum di Universitas Jember, dia sudah aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Terkhusus pada bidang pemberdayaan perempuan, pelatihan kerja, hukum, juga politik. Dia juga pernah menjadi pendamping bagi para penyintas.

Budaya patriarki mengabadikan peran perempuan dalam ranah publik. Membuat mereka seakan tak berdaya tanpa laki-laki. Urusan ekonomi pun, perempuan bergantung pada suami. Sebab, kebanyakan dari mereka dilarang untuk bekerja setelah menikah. “Setelah menjalani sidang perceraian, mereka menghadapi kebingungan dan kekosongan pekerjaan,” ucap Ina.

Hadirnya Mengayu menjadi wadah asah keterampilan. Para perempuan penyintas diberikan pelatihan agar bisa bekerja meski di rumah. Misalnya saja jasa salon cream bath, facial, pangkas rambut, cat rambut, SPA, hingga lulur yang saat ini tengah berjalan.

Sebanyak 300-an perempuan telah dilatih oleh Mengayu. Tujuan lain, dia ingin para mitranya mendapatkan pengalaman bertemu dengan sesama perempuan penyintas, kemudian saling berbagi dan menguatkan. “Mereka bisa jadi lebih percaya diri dan bisa meningkatkan penghasilan untuk biaya hidup,” harapnya.

Pembentukan kepercayaan diri bagi penyintas diiringi dengan pemulihan psikisnya. Ina menjalin kerja sama dengan psikolog untuk memberikan terapi penyembuhan luka batin juga melatih public speaking.

Halang rintang sudah banyak dilalui Ina saat merintis dan mengenalkan Mengayu. Tak jarang penolakan terjadi saat ingin menggalang dukungan. Termasuk ketika memasuki instansi pemerintahan di Lingkungan Pemkab Jember. Dari program yang ditawarkan, tak kurang dari 50 perusahaan yang dimasuki, namun nihil hasil. “Tapi kami nggak nyerah,” ungkap perempuan asal Kelurahan Kebonsari itu.

Kegigihan itu berubah manis kala Mengayu yang Ina bangun bersama timnya mendapatkan support material pada tahun lalu dari Singapura Foundation Young Social Entrepreneurs (SIF YSE) Global 2022 sebesar Rp 228,5 juta.

Kebanyakan, perempuan yang tergabung dalam Mengayu memang ibu-ibu yang berperan sebagai kepala keluarga. “Jadi, ibu-ibu mitra selain joint, Mengayu mereka juga boleh usaha sendiri, misal jual kue atau buka jahitan,” katanya.

Dalam setiap perjalanannya, Ina selalu menebarkan pesan agar para perempuan penyintas tak pernah merasa sendiri dan minder. Tidak berdiam diri tak melakukan apa pun yang malah akan mempersulit diri. Sebaliknya, membangun kepercayaan diri dengan mencari wadah berkumpul yang pas dan terus produktif.

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related article